Kamis, 07 Juni 2018

Margin Lailatul Qadr

Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa lailatul qadr adalah malam yang bisu penuh dengan ketenangan. Bahkan digambarkan air sungai pun berhenti mengalir.

Tapi hal ini mungkin tak berlaku bagi mereka yang hidup di tengah-tengah kota metropolitan, di mana mesin menderu tak kenal henti. Tempat tinggal saya,  persis berada di depan sebuah jalan yang tak pernah sepi. Diseberang rumah saya ada Gereka Katolik yang tiap malam tidak sepi dengan nyanyian kidung agung dan dentingan lonceng di subuh hari.

Mengharapkan malam tanpa suara bagi saya serasa tanpa alasan, innosense.

Setiap malam, truk-truk kian menderu, mengangkut pasir dari kongsi dagang entah dari mana dan hendak diantarkan kemana.

Lantas bagaimana saya hendak mengimani lailatul qadar?

Malam boleh tak pernah tidur, suara-suara tak pernah mungkin pulang pada sepi, dan siang dan malam hanya dipisah oleh ingatan. Namun ketenangan hati, sesuatu yang kadang tak perlu dijelaskan, selalu mampu memberikan bisu itu. Bagi orang awam seperti saya, alangkah susah untuk menemukan ilham bahwa malam ini adalah malam seribu bulan. Maka perkaranya ialah soal tebak-menebak, seperti isyarat dari Al-Ghazali: “Jika puasa jatuh tanggal sekian, maka lailatul qadar tanggal sekian.” Tapi toh orang awam seyogyanya sadar diri: jika kalian tak tahu persis kapan lailatul qadar, ibadahlah tiap malam. Mungkin, lailatul qadar justru adalah sesuatu yang diciptakan. Mungkin.

Jumat, 04 Mei 2018

Indonesia Anak Bawang Islam Dari Timur

Ketika seorang Muslim mempergunjingkan Arab dengan segala keburukan yang meluap dari kepalanya. Tidakkah ia menghiraukan perasaan Nabinya yang notabene lahir di Tanah Arab, bermoyang Arab, bertumpah darah dan berbudaya Arab, berkerabat dan bersahabat orang Arab? Bagaimana ia bisa mengabaikan perasaan Junjungannya sementara ia begitu mendewakan ego kesukuannya dan mematok harga mati bagi kehormatan tanah airnya sendiri sebetapapun berjubel keburukan yg tersemai di dalamnya.

Ketika kita memahami kemana sebenarnya gagasan Islam Nusantara itu dibidikkan, maka sungguh patutlah kita bertanya tentang apa yang sebenarnya hendak diperjuangkan dengan Islam Nusantara. Keluhuran Kalimatullah dan tegaknya Sunnah Rasulullah ataukah hanya membanggakan kemegahan leluhur nenek moyang dan ketenaran budaya kita?

Paskah penetapan Indonesia sebagai Negara Muslim yang ”katanya” memiliki toleransi beragama yang tinggi dibantu dengan adanya Pancasila dan secarik kertas genggaman garuda tertulis “Berbeda-beda tapi tetap satu” dalam sidang PBB tempo lalu. Kiranya telah membuat sekelompok organisasi besar negara kita dengan tergopoh-gopoh menawarkan Islam Nusantara sebagai sebab intinya.

Mereka dengan seenak hati mengatakan “Islam datang dari Arab dan besar di Arab. Sedangkan zaman ini adalah masa fitnah dan lahirnya Islam Nusantara demi menangkal fitnah tersebut. Dimana Islam Arab-lah yang membuat orang senang berperang dan bertikai dengan sesama, maka orang Arab mesti belajar Islam Nusantara agar bisa hidup rukun seperti bangsa kita.”

Kemudian menghiasi sebuah konsep yang masih “prematur” tersebut dengan Islam yang toleransi, berperadaban, berkebudayaan dan berakhlak. Mengambil sampel setengah masak bahwa Islam hadir di Indonesia dengan jalan damai atas kesadaran sendiri tanpa menerukan lebih lanjut jalannya sejarah.

Mendengar itu kita pun bertanya, Islam yang bagaimana yg dianut oleh bangsa Arab? Apakah ajarannya berbeda dengan Islam yang dianut warga Nusantara?

Jika benar bangsa Arab merupakan bangsa yang kurang berbudaya dan beradab akibat menelan ajaran yang kurang sempurna dari sisi adab kemanusiaan, maka ini sungguh merupakan tudingan yang jelas-jelas menyesatkan dan termakan buku-buku karya para orientalis.

Kita ingat, sejarah peradaban manusia tak pernah sunyi dari pertikaian antar sesama terjadi di setiap periode generasi dan di segenap penjuru negeri. Bukan hanya di zaman lampau namun juga di masa kini. Bukan hanya di gurun sahara namun juga di lautan dan di gunung yang penuh hutan belantara. Bukan sekadar di deretan negeri khatulistiwa namun juga di tepian kutub utara, yang mana tragedi pertumpahan darah juga ramai menghiasi dan menjejali lembaran sejarah Nusantara tanpa terkecuali.

Jika kita menengok lembaran sejarah kelam Nusantara mulai era kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya di Sumatera, kerajaan Kutai Martadipura di Kalimantan, kerajaan Tarumanegara dan Mataram Hindu di bawah wangsa Sanjaya dan Syailendra di Jawa, lalu bersambung dengan kerajaan Medang dan Kahuripan yang kemudian terpecah menjadi Janggala Singasari dan Panjalu Kadiri dan terakhir menjelma menjadi Majapahit, kemudian berlanjut dengan era kerajaan Islam seperti Samudera Pasai di Aceh dan Demak di Jawa yg melahirkan raja-raja Mataram Islam , hingga berikutnya masuk ke era pemerintahan modern sedari orde lama hingga orde reformasi. ternyata lembar demi lembar sejarah Nusantara menyimpan seabrek prestasi pembunuhan kejam perebutan tahta, pembunuhan Ulama, pembantaian rakyat sipil dan lain-lain.  Bahkan belum lama berlalu dari ingatan kita tragedi saling bantai di Maluku, Sambas, Sampit dan Poso yang begitu merindingkan bulu kuduk kemanusiaan karena teramat mengerikan, belum lagi tragedi berbau anyir darah di berbagai wilayah seperti tragedi Mei 98, perang antar desa di banyak daerah, tawuran pelajar yg marak di berbagai kota ... dsb...dsb ...

Dengan menyimak tragedi pembantaian manusia yang terjadi antar sesama anak bangsa di bumi Nusantara yang begitu memilukan ini. Adakah kita lantas mengatakan ajaran leluhur kita bisa menjadi solusi? atau barangkali Pancasila kita belum sepenuhnya sakti untuk bisa menangkal kesemuanya?

Mengapa ketika persengketaan dan pergesekan berdarah itu terjadi di hamparan gurun Arabia, lantas kita dengan teganya menjadikan Islam yg dipeluk oleh orang Arab sebagai kambing hitamnya. Kurang ketimuranlah, kurang tasamuhlah, kurang tawasuthlah. sehingga kemudian kita dengan tergopoh-tergopoh menawarkan solusi Islam Nusantara, yang padahal bumi Nusantara juga tak kunjung sepi dari tragedi serupa.

Sungguh solusi yang kurang cerdas untuk digagas. Barangkali gelar ”Islam paling moderat” yang dilabelkan para kuffar dalam sidang PBB membutakan mata kita sehingga seenaknya menohok apa yang menjadi kecintaan Nabimu?

أحبوا العرب لثلاث : لأنني عربي، وكلام أهل الجنة عربي، والقرآن الكريم باللغة العربية

"Cintailah Arab karena tiga hal; karena aku seorang Arab, percakapan penduduk Surga adalah (bahasa) Arab dan al-Quran al-Karim (diturunkan) dengan bahasa Arab".

حب العرب من الإيمان وبغضه نفاق

"Mencintai Arab sebagian dari iman, sedangkan membencinya merupakan sifat kemunafikan."
Jika anggapan yang begitu keji disematkan pada Islam Arab dan berusaha mengukuhkan Islam sebagai referensi baru dalam berislam yang moderat tapi bila terjadi kekisruhan dikalangan nusantara mereka akan jauh-jauh mengais referensi dari kalangan Ulama Arab. Tidak bisakah kalian konsisten dengan merujuk referensi-referensi hasil karya Ulama nusantara saja. Karena kalian sendiri yang mengajukan Islam Nusantara sebagai standar kemoderatan.




Selasa, 01 Mei 2018

Hari Buruh, Komunis, Demokrasi, dan Islam

Sebagai penikmat buku-buku paham kiri (komunis-sosialis) saya tergugah untuk menuliskan ihwal tentang Hari Buruh internasional. Dimana tanggal 1 Mei dinobatkan sebagai hari peringatannya. Saya rasa ini menarik sekali. Hari Buruh, Komunis, Demokrasi, dan Islam.

1. Buruh

“Buruh” seperti dijelaskan dalam Wikipedia, berarti: manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainnya kepada pemberi kerja atau pengusaha atau majikan.

Buruh identik dengan gerakan-gerakan reformasi kaum kiri. Sebagai bukti konkrit lambang kaum kiri adalah palu arit dan celurit. Melambangkan pekerja kasar dan petani. Dan lokomotif terbesar dalam proses revolusi Rusia yang dikenal dengan “Revolusi Bolshevik” adalah kaum buruh. Sebagai pertanda bangkitnya Uni Soviet dengan paham komunis.

Itulah sebab negara-negara yang haluannya bersebrangan dengan kaum kiri (Komunisme, red) contohnya demokrasi sangat mengekang dan bersikap awas terhadap para buruh. Kemerdekaan mereka diambil dan dipekerjakan oleh “kaum borjuis” dimana mereka ini berkuasa penuh dan diuntungkan dalam sistem demokrasi kapitalisme.

Sehingga dengan ditetapkan 1 Mei sebagai Hari buruh tentu memiliki dampak tersendiri demi kesejahteraan kaum buruh.

2. Komunis dan Demokrasi

Sistem komunis lebih condong kepada pemerataan ekonomi sedangkan demokrasi lebih cenderung mengeruk kekayaan tanpa batas. Sehingga yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Sebagai sebuah ideologi pemerintahan komunis dengan sistem ekonomi sosialis, maka tentu saja sistem ini bertentangan dengan ideologi pemerintahan demokrasi dengan sistem ekonomi kapitalis. Belum lagi perbedaan mencolok demokrasi menjunjung tinggi liberalisme dan kebebasan pers yang bertolak belakang dengan komunis. Membuat keduanya saling bersebrangan dalam segala hal dan sempat bersitegang hampir setengah Abad lebih berebutan pengaruh di dunia ini.

Untuk memetakan saya beri gambaran umum antara demokrasi dengan sistem ekonomi kapitalisnya dan komunis dengan sistem ekonomi sosialisnya. Saya misalkan seperti ini:

“Ada dua desa. Dan satu-satunya akses pertemuan kedua desa ini adalah sebuah jembatan. Tapi seiring waktu jembatan ini hancur. Pertanyaannya bagaimana kedua sistem tadi dalam membangun jembatan yang rusak?

Kalau kita pakai sistem demokrasi ekonomi kapitalis maka ada sekelompok Borjuis (perusahaan/orang kaya, red) yang membangun jembatan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, tanah pinggirannya juga digarap untuk memperindah jembatan. Tapi bila jembatan sudah jadi jembatan akan “dikomersialkan” dan setiap yang lewat harus membayar. Contoh jembatan Suramadu.

Kalau kita menerapkan sistem komunis dengan ekonomi sosialis maka yang dilakukan tiap-tiap kepala keluarga dari kedua desa mengumpulkan dana misalnya Lima Puluh Ribu sesuai dengan anggaran sederhana pembangunan jembatan. Ketika sudah jadi maka jembatan itu milik bersama dan setiap orang bebas melewatinya."

Dari paparan sederhana itu kira-kira mana sistem paling baik?

Setelah runtuhnya Komunis diakhir Abad ke-20 otomatis tidak adalagi saingan sistem demokrasi yang dipelopori Amerika Serikat. Dan satu-satunya ancaman terbesar setelah runtuhnya komunisme adalah “Islam.”

Kenapa saya memakai tanda kutip? Karena tidak semua penganut Agama Islam adalah musuh bagi Amerika. Selama mereka sejalan dengan kebijakan dan aturan main Amerika Serikat maka mereka aman.

Terus Islam seperti apa yang dianggap musuh oleh Amerika Serikat?

Yaitu penganut Islam yang berusaha membangun Islam lebih dari sekadar Agama. “Islam adalah tanah air, kebangsaan dan Negara.”  Slogan inilah momok menakutkan bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya untuk menjauhkan kita dari politik. Sehingga tidaklah hiperbolis jika saya anggap bahwa kejadian  11 September 2001, adalah hal yang  dikonspirasikan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Bahwa Uni Soviet telah kalah pada Abad 20. Dan memaklumkan perang diawal dekade Abad 21 kepada Umat Islam. Penganut Agama Islam diwacanakan sebagai sebagai Agama teroris. Tentunya perang yang dilancarkan dengan cara berbeda. Ghozwullfikr (perang pemikiran).

3. Komunisme, Demokrasi dan Islam

Dalam sejarah Indonesia kita tercinta tampaknya ada Disconnection antara anak bangsa dan paham komunis paska tragedi G30S/PKI. Ditambah lagi anggapan bahwa  komunisme anti Agama dan Atheis.

Memang benar dalam prinsipnya Komunis tidak percaya akan Agama. Tapi tidak melarang Agama. Buktinya PKI (Partai Komunis Indonesia) dasar fraksinya adalah Sarekat Islam pimpinan Musso, Syafruddin Prawiranegara, Semaun, adalah tokoh-tokoh yang dikenal sebagai Muslim. 

Dan dalam sejarah Indonesia, Uni Soviet sebagai kiblat Komunisme turut andil membantu Indonesia dalam pembebasan Irian Jaya Barat. Yang ketika itu masih dikuasai Belanda dengan akomodasi lansung dari Amerika Serikat. Dan hal ini menjadi sebab Ir. Soekarno begitu meng-anakemas-kan PKI. Dan menjadi sebab juga Indonesia satu-satunya negara yang keluar dari PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Karena tidak sepantasnya dalam Perang Dingin ketika itu PBB ditempatkan di Amerika Serikat yang tidak lain pihak yang berkonfrontasi lansung dengan Uni Soviet.

Selain itu yang patut disayangkan muncul “anekdot-anekdot”  dan interpretasi(penafsiran ulang) berlebihan bahwa Demokrasi sejalan dengan Islam dan menganggap Komunis adalah pilihan yang salah.

Kalau kita merunut lebih jauh memang benar dalam demokrasi sejalan dengan Islam “tapi” tidak semua. Sama kedudukannya dengan Komunis. Mau bukti?

Dalam karya Magnum Opus Ahmad Mansur Suryanegara dengan judul Api  Sejarah ada sebuah Hadis Mauquf (Disandarkan pada sahabat) secara literal seperti ini:

“Khalifah Umar Ra berjalan-jalan di kota Madinah dan menemukan sebuah lahan kosong yang tidak dipergunakan. Khalifah kemudian menanyakan siapa pemilik lahan ini. Fulan mengatakan ini milik Fulan. Khalifah mendatangi Si Fulan dan menanyakan perihal lahan kosong itu. Ternyata Si Fulan tidak ingin memakai lahannya karena hanya membutuhkan sekian persegi saja untuk kambing-kambingnya merumput. Atas insiatif Umar Ra maka tanah itu disita dan dimasukkan sebagai milik Negara.”

Dari sini kita bisa melihat Wajhdilalah dari Hadis di atas. yang sejalan juga dengan sistem komunis dimana segalanya adalah milik negara dan dipergunakan untuk kemajuan negara.

Jadi harus dibedakan antara komunis dan atheis. Paradigma masyarakat umum menganggapnya sama saja, tapi itu dua hal yang jelas berbeda, seperti jelasnya antara siang dan malam. Dan apapun isme-isme yang berkembang di dunia semuanya memiliki kesamaan dengan Islam kalau kita mau reinterpretasi lebih jauh walaupun itu harus mengorbankan makna aslinya.


Tapi bukan berarti adanya kecocokan suatu isme/paham tidak berarti mengunggulkan dari paham Islam yang sebenarnya. Kalau bisa memilih Islam sebagai ideologi pemerintahan yang lebih sempurna dari demokrasi dan komunis, mengapa kita menolak sistem itu (khilafah, red)?

Minggu, 15 April 2018

Imam Ramadhan Part III di Mesir

Bumi kinanah menjelma bagaikan tungku panas. Tidak ada lagi yang memakai pakaian musim dingin. Kiranya musim telah berganti. Jadwal waktu Solat Subuh yang dulunya mendekati jam 6 Pagi mulai bergeser mendekati jam 3 Dini Hari.

Itulah pertanda bahwa Bulan Ramdhan semakin dekat. Bulan yang sangat kunantikan. Entah kenapa setiap dekat Bulan Quran ini saya selalu menangis antara bahagia dan sedih. Hal gila yang tidak bisa kuutarakan.

Sore menjelang Maghrib saya pergi ke Khan El-Khalili sekedar jalan sore sambil menikmati keramaian halaman Masjid Sayyidina Husain. Tiap turis wajib untuk datang ke Khan El-Khalili karena disinilah pernak-pernik khas Mesir dijual. Sambil menunggu Azan Maghrib karena selepas itu ada kelompok belajar bersama.

Banyak sekali turis yang lalulalang. Melihat gerak-gerik makhluk-makhluk ciptaan Allah, belajar melalui observasi empiris. Membaca karakter orang sepandai Sherlock Holmes dalam karya novel Sir Arthur Conan Doyle. Terlalu banyak membaca juga itu tidak baik menurutku. Banyak membaca harus juga diimbangi dengan merenung dan banyak observasi lansung. Dengan demikian kita bisa membentuk pandangan sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang lain.
          
Selepas Solat Maghrib saya dan teman-teman berkumpul di depan Masjid Husain sesuai janji. Terus menuju ke salah satu rumah teman untuk memulai belajar bersama. Masing-masing kita diberi tugas memberikan materi sebanyak 20 halaman dari diktat kuliah. Secara bergantian. Lumayan lama juga. Sampai jam 00:35 Dini Hari.

Sampainya di flat lantai empat kawasan Darrasa saya niatnya ingin solat Isya kemudian tidur. Tapi tiba-tiba hpku bordering. Ada semua pesan masuk dari Syekh Ridwan dari Thanta. Beliau adalah Dosen Quran di Universitas Thanta. Kapasitasnya dalam bidang al-Quran tidak diragukan lagi.

Ternyata beliau meminta saya untuk menjadi Imam Ramadhan Tahun ini di kawasan Ma’adi. Masuk dalam kawasan Qohirah Jadidah (New Cairo). Dalam novel Habiburrahman El-Shiraezy dijelaskan sekilas tentang kawasan ini. Secara umum kawasan ini berbeda dengan kawasan lain dan unik seperti halnya Zamalek, Madinet Nasr, Tahrir, Downtown. Rumah-rumah kawasan Ma’adi adalah kepemilikan pribadi bukan Gedung Flat yang jamaknya saya temukan di Mesir.

Sebelumnya saya pernah Imam Ramadhan di daerah Muqattam. Gunung yang dalam cerita Kristen pernah dipindahkan Nabi Isa As. Juga saya pernah Imam di Matreya daerah Utara Kairo.
 

END.,

Senin, 09 April 2018

Berharap Jadi Goblin

Pernah nonton drama korea dengan judul “Goblin”?? Drama bergenre romantic yang lumayan buat saya baper dan bertekad memanjangkan rambut untuk meniru gaya rambut pemeran utamanya. Walaupun akhirnya jadi bela dua.

Alurnya bercerita tentang seorang Panglima perang masa baheula yang dihukum tidak mati sampai menemukan cinta sejatinya. Cukup menarik bagi saya. Lebih terkesan menggambarkan reinkarnasi dalam keyakinan Buddha.

Tapi bukan masalah doktrin Agama yang saya bahas. Tapi mengenai umur panjang yang diberikan.
Bagiku pengalaman adalah segalanya. Tentunya dengan hidup yang panjang pasti sudah banyak sekali buku yang kita baca. Kemudian ditopang dengan pengalaman saksi mata pergantian Golden Age tiap Bangsa. Melihat perkembangan Dunia dari Abad sebelum Masehi sampai Abad Milenia saat ini tentu sangat memperkaya keilmuan kita.

Tentu kita pernah mendengar pepatah “Dengarkanlah orang tua karena mereka sudah merasakan asam garam kehidupan ini dan  lebih bijak”. Hal ini benar juga. Karena semakin lama hidup semakin bijak kita memandang. Justru dengan usia yang masih belia kita tidak bisa dengan mudah menentukan jalan kita kecuali dengan bimbingan guru-guru atau orang yang sudah tua.

Semakin panjang umur dan sehat. Ditopang bacaan bertriliun-triliun buku dan kitab, saksi sejarah jatuh bangun semua peradaban, bercengkrama ke seluruh pelosok Negri, menguasai bahasa yang banyak. Jika saya bisa seperti ini. Sayalah orang bijak bestari di dunia ini.

Tentunya juga  dengan gambaran yang seusai di film dramanya yang tidak pernah menua. Jika seandainya umur panjang tapi organ tubuh tidak berfungsi dengan baik apa gunanya hidup lama. Hanya akan menjadi beban bagi orang lain.(HADITS)


Disini saya juga berfikir. Sejauh mana pengalaman Iblis yang diberikan umur panjang oleh Allah untuk menggoda manusia(AYAT). Tentunya dengan jaminan umur yang diberikan Allah iblis jauh lebih berpengalaman dalam menggoda manusia.

Ketika Bersyair Adalah Sebuah Dosa

Puisi memiliki roh yang mampu merasuki setiap jiwa pendengarnya. Sama halnya menyanyi, menari, yang merupakan bentuk ungkapan jiwa.

Puisi tidak selalu bergerak sendiri, karena di dalamnya ada sebuah pendalaman empiris yang diselami dan menggenapi pemaknaan realitas. ia (puisi) menerjemahkan segala ketidak mampuan realitas yang dirasa perlu untuk diungkapkan.

Lahirnya puisi "Ibu Indonesia" yang dibacakan pada pembukaan kongres IV PDIP oleh mantan Presiden Republik Indonesia, Ibu Sukmawati soekarnoputri. Adalah satu dari sekian banyak puisi yang menggambarkan realitas manusia dan kehidupan semesta. Yang harus dan perlu untuk kita refleksikan bersama. Karena aku yakin puisi "Ibu Indonesia" tidak sekedar lahir hanya untuk menyentuh hati pendengarnya. Atau sekedar unjuk diri dengan penggunaan diksi yang tidak biasa.
Ia (puisi) yang tajam, baik ditilik dari segi kultur, kebangsaan dan kebhinekaan.

Dari segi kultur Ibu Mega seakan ingin mengatakan bahwa inilah budaya kita yang mulai tergerus dari masa ke masa. Dimana ketika konde diharamkan. Wanita-wanita dalam perkumpulan ormas islam terbesar yang dulunya berani tampil dalam kongres kebangsaan ataupun keislaman dengan konde dan kebaya kini mulai tergantikan dan menganggap tabu menampilkannya.  Kita semua menyaksikannya. Ketika busana adat mulai dituduh dosa. Ketika wayang dan tari-tari rakyat mulai disebut sesat. Ketika orang-orang semakin bangga membenci saudara sebangsa dan membunuh budayanya sendiri. Mungkinkah Islam di Nusantara kelak bisa memproduksi ekspresi keagamaannya sendiri yang khas Indonesia dan percaya diri? Sekaligus menjaganya kedepan?

Dari segi kebangsaan dia bukanlah orang yang baru dalam pentas kebangsaan. Ayahnya adalah seorang bapak proklamator. Penyeru paham nasionalisme ditiap sudut Indonesia. Dengan PNI (partai nasional Indonesia) membawa partai ayahnya yang berpaham nasionalis sebagai partai keanggotaan terbesar di Indonesia. Tentunya hal itu mengakar dalam sukmawati kecil ketika itu. Dia tau betul apa itu jati diri kebangsaan. Dan puisinya adalah secercah harapan agar ada yang tersisa bagi generasi kedepannya.

Masih lekat di genggaman sang garuda lambang negara kita. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu. Kata-kata yang dinukil dari Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Seakan ia ingin mengatakan ini adalah Kebhinekaan. Berkaca dari kejadian-kejadian di Indonesia yang berada dalam titik nadir krisis Kebhinekaan. Pembakaran masjid di tolikara, penutupan paksa gereja di aceh, peruntuhan paksa patung dewa Kwang kwong di kudus. Yang ia tuangkan kegelisahan itu dalam puisi “ibu Indonesia”

Salahkah Puisi itu?

Sebuah pertanyaan yang seharusnya di jawab dalam perpekstif sastra dan tanpa membenturkannya dengan politik ataupun Islam. Dimana tafsir puisi "Ibu Indonesia" dijadikan senjata politis dan senjata keagamaan untuk membunuh pikiran manusia yang kecanduan birahi politis dan semangat keislaman yang tidak mendasar. Bagaimana mungkin puisi yang merupakan penyelaman atas realitas manusia dan bangsa itu (harus) dipenjarakan?

Puisi-puisi yang dilatar belakangi dan memiliki naluri ke-Indonesia-an sangatlah dibutuhkan dewasa ini. Karena dengan puisi aksara itu menjadi lebih berarti. Karena dengan puisi dapat menyentuh palung hati.

Pada akhirnya, saya acungkan jempol untuk Ibu Sukmawati Soekarno Putri dan puisi "Ibu Indonesia" yang lahir dari Rahim kepekaan pengalaman yang telah menyaksikan perjalanan bangsa ini hingga Abad milenia.




Minggu, 25 Maret 2018

Buya Hamka; Tafsir, Tasawwuf, Sastra



Beliau bukan hanya seorang Ulama yang pandai dalam ilmu agama. Tapi juga berkonstribusi dalam dunia sastra. Bukunya pun ada yang menyinggung masalah Tasawwuf dengan judul "Lembaga Kehidupan" dan "Tasawwuf Modern".

Beliau adalah ulama yang kharismatik. Dikenal luas masyarakat Indonesia. Mungkin diantara semua karya beliau yang masyhur adalah Tafsir Al-azhar. Mungkin kalau dianalogikan Buya Hamka sama dengan kharismatiknya Syeikh Mutawalli Sya'rawi di Mesir yang terkenal ramah itu.

Tafsrnya pun di tulis dalam penjara. Hampir sama dengan kondisi Badiuzzaman Sa'id Nursi dengan Tafsir Rasail Nur dan Sayyid Quthb dengan Tafsir Fi Zhilal Qur'an. Bahkan menurut Buya Hamka untuk Tafsir masalah sosio kemasyarakatan di Indonesia. Perkataan beliau "Seandainya Saya tidak di penjara Tafsir Al-azhar tidak akan selesai". Tafsir Beliau dinamakan Al-azhar karena beliau pernah belajar ke Mekkah dan bertemu Syeikh Syaltut Grand Syeikh Al-azhar. Akhirnya beliau menamakannya Tafsir Al-azhar dengan harapan Tafsirnya akan menjadi benih lahirnya generasi Azhari di Indonesia. Ushlub Tafsirnya lebih ke Adab ijtima'i dan Beliau mengakui banyak terpengaruh Rasyid Ridha melalui Tafsir Al-manar.

Hari jumat kemarin tepatnya tanggal 23/3/2018 saya mengulas salahsatu dari karya sastra beliau yang berjudul "Di Bawah Lindungan Ka'bah". Di bawah Lindungan Ka’bah adalah salah satu novel satir beliau. Melalui  novel, beliau mengutarakan keresahan akan beberapa sosio kemasyarakatan yang dinilai bertentangan dengan syariat islam. Dimana tokoh utama tidak diperkenankan menikah anak dari kelas sosial yang berbeda. Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah novel sekaligus kasrya sastra klasik Indonesia yang ditulis oleh haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan Hamka. 

Diterbitkan  pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia Belanda.
Menceritakan tentang kisah percintaan antara Hamid dan Zainab yang sama-sama jatuh cinta tetapi terpisah mulai dari karena perbedaan latar belakang sosial. Hingga Zainab yang dihadapkan oleh permintaan Ibunya agar menikah dengan laki-laki yang telah dipilihkan. Pada akhir cerita Hamid memutuskan pergi ke Mekkah dan terus beribadah hingga meninggal di hadapan Ka’bah setelah mengetahui Zainab meninggal.

Novel ini telah diadaptasikan menjadi film sebanyak dua kali, masing-masing dengan judul yang sama pada tahun 1981 dan 2011.

Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Ironi sindiran halus, sarkasme sindiran keras, parodi sindiran dengan cara lucu.

Hamka adalah muslim asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat beragama. Ia memandang tradisi yang ada dalam masyarakat di sekitarnya sebagai penghambat kemajuan agama.


Hamka banyak membaca karya dari penulis asal Mesir Mustafa Lutfi Al-manfaluti dan karya sastra Eropa yang telah di terjemahkan ke bahasa Arab. Beliau menulisnya di Medan setelah dari Makassar.

Di Bawah Lindungan Ka'bah ditulis dalam bentuk singkat dengan gaya bahasa yang sederhana. Kritikus sastra Indonesia, Bakri Siregar beranggapan bahwa ini mungkin terjadi karena Hamka mengikuti gaya penulisan yang diwajibkan Balai Pustaka. Sementara ahli dokumentasi sastra Indonesia, H.B. Jassin mencatat bahwa Hamka memiliki gaya bahasa yang "sederhana, tapi berjiwa". Kritikus sastra lainnya, Maman S. Mahayana, Oyon Sofyan, dan Achmad Dian menyebutnya mirip dengan gaya bahasa dari penulis asal Mesir, Mustafa Lutfi al-Manfaluti.

Di Bawah Lindungan Ka'bah memiliki gaya penceritaan yang bersifat didaktis(bersifat mendidik), yang bertujuan untuk mendidik pembaca berdasarkan sudut pandang penulis. Menurut Jassin, Hamka lebih mengedepankan ajaran tentang dasar-dasar Islam dibanding menyinggung tema kemodernan, seperti kebanyakan penulis saat itu, dan mengkritik beberapa tradisi yang menentang Islam.

Di Bawah Lindungan Ka'bah diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1938. Awalnya ditolak karena dianggap akan merusak citra hindia belanda tp karena dianggap hanya mencerminkan dunia islam semata maka bisa lulus sensor dari Balai Pustaka. Hamka kemudian menerbitkan empat novel lain selama berada di Medan, termasuk Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang dianggap sebagai karya terbaiknya.Setelah cetakan ketujuh, novel ini diterbitkan oleh Bulan Bintang.

H.B. Jassin mencatat bahwa Di Bawah Lindungan Ka'bah ditulis dengan menarik dan indah. Bakri Siregar menganggap novel ini menjadi cerita yang dikarang dengan baik dan gaya penulisannya yang kuat. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebut bahwa karya Hamka terlalu mementingkan nilai moral dan plotnya bersifat sentimental, ia merasa bahwa novel ini akan mempermudah pembaca Barat mengerti tentang kebudayaan Indonesia pada tahun 1930-an.
Di Bawah Lindungan Ka'bah telah dua kali diadaptasi menjadi film layar lebar. Pertama, film yang dirilis pada 1977 dan disutradarai oleh Asrul Sani berjudul Para Perintis Kemerdekaan dan dibintangi oleh penyanyi dangdut Camelia Malik sebagai Zainab. Adaptasi ini menampilkan perjuangan cinta dua tokoh dengan latar belakanga perjuangan menghadapi kekuatan kolonial Belanda. Film ini meraih kesuksesan, memenangi dua Piala Citra dari enam nominasi pada Festival Film Indonesia 1977.

Adaptasi kedua, dirilis pada 2011 dengan judul Di Bawah Lindungan Ka'bah, disutradarai oleh Hanny R. Saputra dan dibintangi oleh Herjunot Ali sebagai Hamid dan Laudya Cynthia Bella sebagai Zainab. Adaptasi ini berfokus pada cerita percintaan. Meskipun dikritik karena penempatan produk dan perampasan kebebasan artistik yang mencolok, film ini diajukan sebagai perwakilan Indonesia pada Academy Awards ke-84 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik, tetapi tidak berhasil masuk nominasi akhir.

Novel ini sarat dengan nilai agama, sekali lagi Buya Hamka ingin mengkritik bagaimana beberapa kebiasaan adat dinilai konservatif. Misalnya tentang larangan perempuan bersekolah tinggi, dan perkawinan yang ‘dipaksakan’, yang menentukan adalah keluarga, sedangkan calon perempuan hanya bisa menerima.

Hal yang unik saya temukan di novel ini adalah penggunaan dua pemeran utama dengan kata ganti saya dan dia. yang berbeda dari novel-novel dewasa ini. tujuannya adalah untuk menunjukkan nilai pendidikan Islam di dalamnya.

Senin, 26 Maret 2018


Kamis, 22 Maret 2018

Ujian Akhir

Besok adalah ujian akhir yang menentukan selesai dari Markas Lugah. Sebuah lembaga otonomi di bawah naungan Universitas Al azhar. Setelah bergelut selama kurang lebih 8 bulan.

Hal itu merupakan kewajiban bagi setiap CAMABA Univrsitas Al-azhar. Bagi yang ingin menempu jenjang perkuliahan di Al-azhar, Markaz Lugah ini bagaikan perkuliahan kami. Walaupun bukan kategori jenjang pendidkan formal dalam Al-azhar. Tapi di sinilah awal mula langkah kami berjuang di Negeri Kinanah.

Kalian tau? Mungkin kalian beranggapan ini hanya membuang-buang waktu. Tahun dimana seharusnya kita sudah masuk kuliah tahun pertama. Eh, nyatanya malah masuk pendidikan kursus Bahasa. Itu anggapan kalian. Justru disinilah kami di tempa menjadi lebih baik lagi

Sejak 3 tahun belakangan ini Al-azhar mengeluarkan kebijakan bagi tiap MABA wafidin (NonArab) di wajibkan mengikuti kursus Bahasa Arab. Demi kelancaran kuliah nantinya. Jujur ini merupakan kesempatan besarku untuk mempermantap Bahasa Arabku yang memang di bawah rata-rata. Selain itu Markaz Lugah juga menjadi ajang bagi kami untuk saling berkenalan satu sama lain. Dengan teman-teman dari Negara lain. Coba seandainya lansung kuliah. Dapat di pastikan temannya ya itu-itu saja.(setidaknya ini pendapatku) di tempat itu pula. Kita bukan hanya belajar Bahasa Arab saja. Tapi juga selainnya. Seperti ustadz yang membawakan pelajaran kadang juga berbicara tentang Bumi Mesir ini. Mulai budayanya, provinsinya, system birokrasi, kejadian rab’ah,sejarah perang ‘ain jalut dan lain-lain. Dan yang lebih membuatku bersyukur masuk markaz lugah karena dalam satu qoah itu berbeda-beda juga penghuninya. Dalam pembelajaran kadang ustadz meminta kita untuk berbicara mengenai Negara kita masing-masing. Yang kemudian di tutup dengan dengan semacam ikrar. Bahwa kelak kalianlah generasi azhari yang akan pulang kembali ke Negara masing-masing menyebarkan Islam yang moderat.

15 Mei 2016 (recovery)

Imam Ramadhan Pertama Di Negri Kinanah

Kaget kepalang saya di buatnya. “benarkah??” tanyaku mendesak. “Iya, kau nanti yang imam di masjid itu.” Senang, takut, khawatir bercampur menjadi satu. Senang karena ini pengalaman yang berharga. Takut karena ini yang pertama. Dan khawatir karena takut salah dan mengimami orang-orang arab yang notabene mengerti bahasa Al quran.

Malam pertama bulan Ramadhan pun tiba. Nervous… ?? pastinya. Karena terlalu gugup akhirnya saya meminta syeikh Muhyi untuk imam solat isya untuk malam ini. Baru Tarwihnya saya. Jadwal kegiatannya pun berbeda. Di Indonesia ceramah dulu baru solat tarawih sampai selesai dilanjut solat witir. Disini tarawih 4 rakaat. Ceramah baru melanjutkan sisanya lengkap dengan witr. Anehnya kita dengar ceramah sambal minum tamar hindi dan kadang-kadang subyan. Tidak tau bahan bakunya darimana tapi enak.

Tiap malam harus setengah juz yang di habiskan. Belum lagi tadarrus. Tapi tetap semangat saja. amanah yag telah di berikan. Walaupun kadang menurun lagi. Tapi saya selalu ingin memberikan yang terbaik bagi Jamaah Mesir. Dan hanya mengharapkan imbalan dari Allah semata.
Terkadang saya agak canggung juga membaca ayat-ayat A-lquran yang mengandung sikap rasis dan sinkritisme dalam Al quran. Sementara saya seorang imam dari jamaah yang Arab tulen. Lahir di Negeri arab dan berbahasa Arab. Sudah pasti paham Bahasa al quran(setidaknya untuk Bahasa-bahasa yang mudah bagi mereka) karena mungkin saja ada Umat lain yang tinggal di sekeliling Masjid yang mendengarnya. Belum lagi ayat-ayat yang oleh media di gembor-gemborkan sebagai ayat-ayat penganjur gerakan terorisme.

Sedikit demi sedikit saya sudah mulai beradaptasi dengan cara-cara tata ibadah masyarakat Msir. Awalnya jelas di koment sana koment sini. Tapi Alhamdulillah sudah terbiasa.

Tidak terasa akhirya sudah sampai di penghujung Bulan Suci Ramadhan. Tidak seperti biasanya. Ramadhan kali ini seperti memberikan bekas tersendiri. Sedih rasanya melepas Bulan Suci Ramadhan. Padahal Ramadhan sebelumnya moment Hari Raya adalah moment yang selalu kunantikan. Yang membuatku membuang jauh-jauh rasa sedih. Entah mengapa. Ini bukan karena jauhku dari keluarga. Bagiku berhari Raya dengan atau tidak dengan keluarga adalah hal yang sudah sering kualami. Bukan juga karena indahnya berhari raya di Indonesia..

Suasana yang kontras akan kita hadapi di Negara-negara Asia Tenggara khususnya Indonesia. Itu tidak terlepas dari proses masuknya Islam di Nusantara. Dulu para Ulama menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya yang menghasilkan akulturasi dengan kebudayaan setempat. Bagi Negara-Negara Arab Idul Fitri tidak di sambut terlalu meriah. Justru Idul Adha yang di sambut meriah. Tapi tulisanku tidak bisa menjadi tolak ukur kalian untuk menilai. Karena bisa jadi didaerah pelosok Mesir sana ada yang berbeda. Saya masih seumur jagung di Bumi Kinanah ini untuk memberi penilaian.

5 Agustus 2016 (recovery)

Menginjak 20 Tahun

Akhirnya usiaku sudah menginjak usia ke 20. Dimana aku sudah mulai menginjak usia kepala dua. Usia dimana seharusnya aku sudah mulai melakukan hal-hal besar. Kalian pasti mengenal Sultan Muhammad Al-Fatih. Diumurnya yang ke 21 dia sudah mampu menaklukkan konstantinopel.

Memang tidak sepantasnya saya di samakan dengannya. Tapi saya setidaknya ingin bercermin dari orang-orang hebat seperti dia. Entah itu bagaimana aku menjadi seorang yang bermanfaat bagi sesama. bagiamana nantinya aku menyambut sebuah kematian. Dan lain-lain. Mungkin bagi sebagian orang pemikiranku ini terlalu jauh. Namun menurutku hal ini sangat penting. Karena sesungguhnya 20 tahun  bukanlah usia muda lagi. Di usia 20 tahun ini gebrakan apa yang telah saya buat. Ada juga prestasi-prestasi hebat yang telah saya buat. Tapi setidaknya jangan dulu cepat berpuas hati. Selain itu juga usia ku berkurang dan 20 tahun sudah aku berjalan menuju kematianku.

Tiba-tiba benak ku bertanya apa saja yang kudapat selama ini yang sudah konkrit dan konsisten aku lakukan?  dan setelah lama berpikir dan mengingat-ingat aku masih ragu menyebutkan satupun hal yang sudah konkrit. Dikarenakan dosa-dosa hambanya yang hina ini dan semoga saja aku tak mati dalam keadaan su’ul khotimah. Tak lupa cita-citaku menguasai bahasa arab dan inggris. Menghapal alquran alhamdulillah sudah. Belajar hukum islam di universitas Al-azhar sedang di tempuh. Mendapatkan nilai mumtaz di ataupun jayyid jiddan. Terus tinggal di darul iftah sambil nulis tesis politik islam. Dan tidak lupa menikah. Sibuk belajar bukan berarti tidak meluangkan waktu untuk inikan. Apalagi ini masalah menyempurnakan separuh agama. Dan wanita yang kuimpikan sebenarnya sederhana. Dimana yang terpenting itu adalah kesamaan prinsip dalam masalah agama. Oh.. Iya. Mungkin ini ambisi terakhirku. Aku ingin mendirikan khilafah islamiyah di bumi ini. Untuk itulah saya ingin istri yang se-prinsip dalam masalah agama dengan saya. Dengan begitu ia bisa Membantuku juga.

11 Agustus 2017 (recovery)